Era asisten virtual AI yang bisa diajak mengobrol layaknya manusia kini resmi berakhir di China. Dua raksasa teknologi, ByteDance dan Alibaba, terpaksa mematikan fitur asisten virtual kustom pada aplikasi AI populer mereka, Doubao dan Qwen.
Langkah drastis ini diambil demi mematuhi regulasi ketat Pemerintah China yang mengatur tentang interaksi kecerdasan buatan (AI) yang menyerupai manusia.
Melansir laporan dari South China Morning Post (SCMP), pengetatan ini dilakukan menjelang pemberlakuan aturan baru yang menyasar layanan AI dengan kemampuan interaksi mirip manusia. Aturan baru tersebut resmi berlaku di China.
Kebijakan baru ini memukul langsung dua aplikasi AI dengan basis pengguna terbesar di Negeri Tirai Bambu tersebut. Selama ini, baik Doubao (besutan ByteDance) maupun Qwen (milik Alibaba) mengizinkan pengguna untuk membuat, memodifikasi, dan mempersonalisasi asisten virtual mereka sendiri, mulai dari gaya komunikasi, keahlian khusus, hingga kepribadian asisten tersebut.
Namun, fitur tersebut kini tinggal kenangan:
- Doubao (ByteDance): Telah mengumumkan penghentian fitur agen AI kustom dengan dalih “penyesuaian fungsi produk”. Seluruh data pengguna terkait fitur ini akan dihapus secara permanen. Pengguna tidak akan bisa lagi melihat atau memulihkan riwayat data tersebut di dalam aplikasi, sehingga disarankan untuk segera melakukan pencadangan mandiri.
- Qwen (Alibaba): Mengambil langkah serupa dengan menonaktifkan agen interaktif mirip manusia serta agen buatan pengguna. Fungsi layanan agen Qwen yang lebih luas juga dihentikan sepenuhnya.
Mengapa Pemerintah China Melarangnya?
Berdasarkan regulasi baru tersebut, Pemerintah China memperketat pengawasan terhadap jenis AI yang “meniru kepralat/kepribadian, cara berpikir, dan gaya komunikasi manusia yang bertujuan untuk membangun interaksi emosional”.
Meski demikian, pemblokiran ini tidak berlaku menyeluruh. Chatbot biasa, AI untuk tanya-jawab umum, asisten kerja kantor, serta AI untuk bidang penelitian dan pendidikan tetap diizinkan beroperasi normal, selama tidak melibatkan stimulasi interaksi emosional dengan pengguna.
Otoritas siber di China mengkhawatirkan sejumlah risiko besar yang dibawa oleh chatbot emosional ini, di antaranya:
- Potensi penyebaran ideologi ekstrem.
- Risiko kebocoran data pribadi pengguna.
- Dampak buruk terhadap kesehatan mental.
- Ketergantungan psikologis yang tinggi pada AI.
“Penggunaan agen AI seperti ini sebenarnya membutuhkan tingkat pemahaman dan literasi tertentu dari penggunanya,” ujar Pan Helin, anggota komite pakar di Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China.
Langkah Serupa oleh Tencent
Penghapusan fitur ini bukan kasus tunggal. Sebelumnya, raksasa teknologi Tencent juga telah menghapus fitur serupa dari Yuanbao, aplikasi asisten AI untuk konsumen milik mereka.
Fenomena ini menunjukkan arah kebijakan Beijing yang kontradiktif namun terukur. Di satu sisi, China terus mendorong pengembangan teknologi AI sebagai infrastruktur baru untuk menggenjot produktivitas nasional.
Namun di sisi lain, pemerintah setempat tidak ragu untuk mengendalikan asisten virtual secara ketat jika dinilai berpotensi mengganggu stabilitas psikologis dan fisik masyarakat.
Hingga artikel ini dirilis, baik pihak ByteDance maupun Alibaba masih memilih bungkam dan belum memberikan komentar resmi terkait penonaktifan fitur tersebut.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.